Selasa, 16 Agustus 2011

sambungan

Dua,tiga, empat hari bahkan sampai seminggu Mas Adnan benar-benar tidak memberi kabar. Baik sms maupun mengirim pesan. Perasaan Aliya semakin menjadi-jadi. Kenapa Mas Adnan menjadi sangat tertutup setelah kegiatan jalan santai. Sampai suatu hari dia menanyakan Mas Adnan pada salah satu temannya, Mas Adjie. Kebetulan Mas Adjie adalah tetangga dusun Aliya. Aliya dekat dengan Mas Adjie, dia sering main ke rumah Mas Adjie dan berbincang-bincang dengannya.
“Mas Adjie, aku mau tanya. Kamu teman sekelasnya Mas Adnan kan?”
“Iya, kenapa tho Dek?”
“Ini lho, kamu tahu kan kejadian pas jalan santai? Nah, setelah kejadian itu, Mas Adnan bener-bener aneh. Aku lostcontact sama Mas Adnan. Kamu tahu ndak ya mas, kira-kira dia itu kenapa.”
“Coba ya, Dek nanti aku cari tahu. Aku juga bingung kok, Dek! Setelah acara jalan santai itu. Padahal kalian kan deket.”
“Ehm, dia berubah ya?”
“Ehm, sedikit sih, Dek! Sekarang kalau dia tak ajak lewat depan kelasmu ndak mau, terus agak pendiam, kalo diajak ke kantin sering nolak, Dek! Dan dia kayak gitu ya setelah acara jalan santai itu.”
“Minta tolong ya, Mas! Aku jadi bingung kenapa dia kayak gitu. Biar kalo aku punya salah, aku minta maaf.”
“Iya, Dek! Sabar ya, tenangin pikiranmu dulu!”
Mas Adjie pun berusaha membantu Aliya dalam hal ini. Segala upaya Mas Adjie lakukan. Namun sayang, perubahan Mas Adnan tetap menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.
“Dek Aliya!”
“Eh, iya Mas Adjie. Ada apa?”
“Gini dek, aku sudah nyoba cari tahu tentang Mas Adnan. Tapi, hasilnya nihil. Temen-temen juga nyoba cari tahu, dan hasilnya sama.”
“Duh, aku bingung. Kalo gini kan ndak jelas permasalahannya itu apa. Kalau jelas, misal aku emang punya salah kan aku bisa minta maaf.”
“Gini aja deh, Dek kamu coba sms lagi ke Mas Adnan tanya kenapa dia jadi aneh sama kamu, bilang aja kalau kamu punya salah, kamu minta maaf.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar