Selasa, 23 Agustus 2011
sambungan
Awal bulan Juni, Mas Bastian mengikuti wasana warsa kelas XII. Aliya sendiri selesai Tes Semester 2 dan sedang menunggu pembagian raport kelas X. Ternyata, mereka sama-sama mendapatkan peringkat. Aliya mendapatkan peringkat satu di kelasnya dan Mas Bastian peringkat dua untuk nilai Ujian Nasionalnya. Mas Bastian telepon bahwa sore hari akan diadakan pertandingan basket di sekolahnya dan dia mengajak Aliya. Aliya ingin, tapi Mas Bastian harus ijin terlebih dahulu kepada orang tua Aliya agar Aliya diijinkan keluar bersamanya. Mas Bastian tidak masalah dengan itu.
Pertandingan basket belum dimulai, Mas Bastian mencari tempat duduk untuk Aliya. Karena, Mas Bastian juga ikut bertanding sore itu.
Selesai pertandingan basket yang dimenangkan oleh SMA Global Jaya keadaan justru berubah menjadi hening. Aneh, seharusnya sorak-sorai gembira terpancar dari para pemain basket. Tiba-tiba MC memanggil Aliya untuk turun ke lapangan. Aliya dengan kebingungannya turun ke lapangan. Suasana pun menjadi sangat hening. Dari ujung pintu sayap kanan, pemain inti SMA Global Jaya keluar dengan membawa bunga mawar putih. Cheerleader pun ikut membawa mawar-mawar putih yang begitu indahnya. Di tengah para pemain basket, Mas Bastian muncul dengan mawar merahnya. Dia lalu berdiri di depan Aliya sambil mengatakan.
“Dek, aku tahu kamu nggak boleh pacaran sama orang tua & kamu sendiri nggak mau pacaran karena kamu pengen fokus sekolah. Aku salut, Dek! Tapi, ada satu hal yang aku pengen kamu ngerti. Aku suka sama kamu, Dek! Kamu beda dari yang lainnya!”
“E..e..e..e.. I’m speechless.”
“Karena aku tahu kamu nggak bakal pacaran untuk sekarang ini. Jadi, kamu nggak perlu jawab, karena aku juga udah tahu jawabannya. Yang penting kamu tahu, kalau aku suka sama kamu, Dek!”
Aliya hanya tersenyum manis. Mas Bastian menggandeng tangan Aliya dan yang lainnya hanya bisa tepuk tangan. Saat membalikkan badan, Mas Adnan berdiri tegak di dekat pagar lapangan. Mata Aliya berkaca-kaca. Mas Adnan seperti memberi kode pada Aliya untuk bertemu dengannya di tempat parkir.
“Dek Aliya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Aku minta maaf, Dek! Aku terlalu gengsi buat deket sama kamu, Dek! Aku akuin aku memang salah. Aku benar-benar bodoh, Dek! Maaf ya, Dek! Aku tahu kamu berusaha nyari aku lewat Adjie dan kamu juga minta maaf sama aku.”
“Oke, tak maafin. Tapi, semuanya udah terlambat, Mas!”
Segera motor Mas Bastian menunggu Aliya. Aliya naik ke motor Mas Aliya, mereka pulang bersama. Namun, di dalam hati Aliya, andai waktu bisa terulang kembali.
You are irreplaceable…
Lereng Merbabu,
Bulan lima 2011
Awal bulan Juni, Mas Bastian mengikuti wasana warsa kelas XII. Aliya sendiri selesai Tes Semester 2 dan sedang menunggu pembagian raport kelas X. Ternyata, mereka sama-sama mendapatkan peringkat. Aliya mendapatkan peringkat satu di kelasnya dan Mas Bastian peringkat dua untuk nilai Ujian Nasionalnya. Mas Bastian telepon bahwa sore hari akan diadakan pertandingan basket di sekolahnya dan dia mengajak Aliya. Aliya ingin, tapi Mas Bastian harus ijin terlebih dahulu kepada orang tua Aliya agar Aliya diijinkan keluar bersamanya. Mas Bastian tidak masalah dengan itu.
Pertandingan basket belum dimulai, Mas Bastian mencari tempat duduk untuk Aliya. Karena, Mas Bastian juga ikut bertanding sore itu.
Selesai pertandingan basket yang dimenangkan oleh SMA Global Jaya keadaan justru berubah menjadi hening. Aneh, seharusnya sorak-sorai gembira terpancar dari para pemain basket. Tiba-tiba MC memanggil Aliya untuk turun ke lapangan. Aliya dengan kebingungannya turun ke lapangan. Suasana pun menjadi sangat hening. Dari ujung pintu sayap kanan, pemain inti SMA Global Jaya keluar dengan membawa bunga mawar putih. Cheerleader pun ikut membawa mawar-mawar putih yang begitu indahnya. Di tengah para pemain basket, Mas Bastian muncul dengan mawar merahnya. Dia lalu berdiri di depan Aliya sambil mengatakan.
“Dek, aku tahu kamu nggak boleh pacaran sama orang tua & kamu sendiri nggak mau pacaran karena kamu pengen fokus sekolah. Aku salut, Dek! Tapi, ada satu hal yang aku pengen kamu ngerti. Aku suka sama kamu, Dek! Kamu beda dari yang lainnya!”
“E..e..e..e.. I’m speechless.”
“Karena aku tahu kamu nggak bakal pacaran untuk sekarang ini. Jadi, kamu nggak perlu jawab, karena aku juga udah tahu jawabannya. Yang penting kamu tahu, kalau aku suka sama kamu, Dek!”
Aliya hanya tersenyum manis. Mas Bastian menggandeng tangan Aliya dan yang lainnya hanya bisa tepuk tangan. Saat membalikkan badan, Mas Adnan berdiri tegak di dekat pagar lapangan. Mata Aliya berkaca-kaca. Mas Adnan seperti memberi kode pada Aliya untuk bertemu dengannya di tempat parkir.
“Dek Aliya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Aku minta maaf, Dek! Aku terlalu gengsi buat deket sama kamu, Dek! Aku akuin aku memang salah. Aku benar-benar bodoh, Dek! Maaf ya, Dek! Aku tahu kamu berusaha nyari aku lewat Adjie dan kamu juga minta maaf sama aku.”
“Oke, tak maafin. Tapi, semuanya udah terlambat, Mas!”
Segera motor Mas Bastian menunggu Aliya. Aliya naik ke motor Mas Aliya, mereka pulang bersama. Namun, di dalam hati Aliya, andai waktu bisa terulang kembali.
You are irreplaceable…
Lereng Merbabu,
Bulan lima 2011
sambungan
Hari Senin, hari yang padat bagi pelajar dan pegawai. Aliya cepat-cepat berangkat ke sekolah agar tidak terlambat. Saat berjalan menuju gerbang sekolah, seseorang menyerempetnya dari belakang tanpa sengaja.
“Aduh! Berdarah nih!”
“Oops, maaf, Dek, maaf!”
“Lagian, aku jalan di pinggir kok bisa-bisanya nyer…em…pet sih?”
Begitu Aliya melihat wajah si penyerempet. Dia terkagum-kagum oleh sosok lelaki yang gagah, berwibawa dan manis.
“Ehm, maaf ya? Tadi, aku ndak ngeliat. Namamu siapa?”
“Aduh oke. Tapi, ini perih. Namaku Aliya.”
“Namaku Bastian Harya. Ayo ke UKS dulu, aku anterin.”
Itu kali pertama Aliya diserempet oleh pengemudi yang bertanggung jawab. Yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kelasnya sendiri di SMA Global Jaya. Nama Bastian Harya memang santer terdengar di kalangan murid-murid SMA Global Jaya. Bastian Harya adalah seorang Ketua MPK dan duduk di kelas XII. Dia juga terkenal ulet dan pandai. Sejak saat itu, Aliya sedikit mengagumi seorang Bastian Harya.
Sekarang ini, Aliya dan Mas Bastian sering berpapasan di kantin, perpustakaan ataupun di kantor guru. Apabila berpapasan, mereka saling melepas senyum.
Seminggu setelah kejadian Aliya keserempet, seseorang mengiriminya sms perihal permohonan maafnya pada Aliya tentang kejadian minggu lalu. Aliya tidak tahu siapa yang mengiriminya sms. Tapi, setelah dipikir-pikir pasti sms itu dari Mas Bastian. Setelah ditanya siapa pengirim sms tersebut, ternyata memang benar Mas Bastian. Aliya tersenyum tapi bingung, darimana Mas Bastian mendapatkan nomor teleponnya?
Seminggu, sebulan, dua bulan Mas Bastian sering sekali sms bahkan telepon Aliya. Perhatiannya besar sekali untuk Aliya. Di sekolah pun Mas Bastian sering mengajak Aliya pulang bersama. Tapi, Aliya merasa tidak enak kalau diajak pulang bersama, Aliya berasa merepotkan Mas Bastian.
Hari Senin, hari yang padat bagi pelajar dan pegawai. Aliya cepat-cepat berangkat ke sekolah agar tidak terlambat. Saat berjalan menuju gerbang sekolah, seseorang menyerempetnya dari belakang tanpa sengaja.
“Aduh! Berdarah nih!”
“Oops, maaf, Dek, maaf!”
“Lagian, aku jalan di pinggir kok bisa-bisanya nyer…em…pet sih?”
Begitu Aliya melihat wajah si penyerempet. Dia terkagum-kagum oleh sosok lelaki yang gagah, berwibawa dan manis.
“Ehm, maaf ya? Tadi, aku ndak ngeliat. Namamu siapa?”
“Aduh oke. Tapi, ini perih. Namaku Aliya.”
“Namaku Bastian Harya. Ayo ke UKS dulu, aku anterin.”
Itu kali pertama Aliya diserempet oleh pengemudi yang bertanggung jawab. Yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kelasnya sendiri di SMA Global Jaya. Nama Bastian Harya memang santer terdengar di kalangan murid-murid SMA Global Jaya. Bastian Harya adalah seorang Ketua MPK dan duduk di kelas XII. Dia juga terkenal ulet dan pandai. Sejak saat itu, Aliya sedikit mengagumi seorang Bastian Harya.
Sekarang ini, Aliya dan Mas Bastian sering berpapasan di kantin, perpustakaan ataupun di kantor guru. Apabila berpapasan, mereka saling melepas senyum.
Seminggu setelah kejadian Aliya keserempet, seseorang mengiriminya sms perihal permohonan maafnya pada Aliya tentang kejadian minggu lalu. Aliya tidak tahu siapa yang mengiriminya sms. Tapi, setelah dipikir-pikir pasti sms itu dari Mas Bastian. Setelah ditanya siapa pengirim sms tersebut, ternyata memang benar Mas Bastian. Aliya tersenyum tapi bingung, darimana Mas Bastian mendapatkan nomor teleponnya?
Seminggu, sebulan, dua bulan Mas Bastian sering sekali sms bahkan telepon Aliya. Perhatiannya besar sekali untuk Aliya. Di sekolah pun Mas Bastian sering mengajak Aliya pulang bersama. Tapi, Aliya merasa tidak enak kalau diajak pulang bersama, Aliya berasa merepotkan Mas Bastian.
sambungan
Aliya mengikuti saran Mas Adjie. Dia mengirim pesan pada Mas Adnan.
“Mas Adnan, aku ndak tahu kenapa sekarang jadi berubah. Setelah acara jalan santai itu kamu aneh banget. Kamu kenapa? Kalau aku punya salah, aku minta maaf. Tapi jelasin apa salahku?”
Tak berapa lama.
“Mboh ya!”
Aliya kaget membaca pesan balasan dari Mas Adnan. Aliya membalasnya sekali lagi, untuk menanyakan alasannya. Tapi, apa daya, Mas Adnan tetap tidak membalas pesan Aliya.
Saking gemasnya, Aliya sampai datang ke rumah Mas Adjie. Padahal, saat itu menunjukkan pukul 19.30 WIB.
“Mas Adjie!”
“Gimana, Dek?”
“Duh, aku hopeless!”
“Haduh, kenapa lagi, Dek? Kamu udah nyoba sms Mas Adnan kan? Terus gimana?”
“Lha ya itu, aku sudah sms Mas Adnan. Tapi, kamu tahu balasannya? “
“Apa?”
“Nih, lihat saja pesan balasannya.”
“Duh, Adnan ki jane ngopo tho? Dia itu biasanya, kalau dinasehatin ndak kayak gini. Tapi, ini bener-bener beda, Dek! Gini ajalah, Dek! Kalau emang dia kayak gitu terus, biarin aja. Ndak usah dipikir! Nanti malah kamu yang sakit cuma gara-gara mikirin Adnan.”
Delapan bulan sudah Aliya mengenal sosok Mas Adnan. Tetapi, delapan bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenal Mas Adnan, menurut Aliya. Mas Adnan yang dulu perhatian, kini berubah menjadi manusia aneh yang menutup dirinya.
Aliya mengikuti saran Mas Adjie. Dia mengirim pesan pada Mas Adnan.
“Mas Adnan, aku ndak tahu kenapa sekarang jadi berubah. Setelah acara jalan santai itu kamu aneh banget. Kamu kenapa? Kalau aku punya salah, aku minta maaf. Tapi jelasin apa salahku?”
Tak berapa lama.
“Mboh ya!”
Aliya kaget membaca pesan balasan dari Mas Adnan. Aliya membalasnya sekali lagi, untuk menanyakan alasannya. Tapi, apa daya, Mas Adnan tetap tidak membalas pesan Aliya.
Saking gemasnya, Aliya sampai datang ke rumah Mas Adjie. Padahal, saat itu menunjukkan pukul 19.30 WIB.
“Mas Adjie!”
“Gimana, Dek?”
“Duh, aku hopeless!”
“Haduh, kenapa lagi, Dek? Kamu udah nyoba sms Mas Adnan kan? Terus gimana?”
“Lha ya itu, aku sudah sms Mas Adnan. Tapi, kamu tahu balasannya? “
“Apa?”
“Nih, lihat saja pesan balasannya.”
“Duh, Adnan ki jane ngopo tho? Dia itu biasanya, kalau dinasehatin ndak kayak gini. Tapi, ini bener-bener beda, Dek! Gini ajalah, Dek! Kalau emang dia kayak gitu terus, biarin aja. Ndak usah dipikir! Nanti malah kamu yang sakit cuma gara-gara mikirin Adnan.”
Delapan bulan sudah Aliya mengenal sosok Mas Adnan. Tetapi, delapan bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenal Mas Adnan, menurut Aliya. Mas Adnan yang dulu perhatian, kini berubah menjadi manusia aneh yang menutup dirinya.
Selasa, 16 Agustus 2011
sambungan
Dua,tiga, empat hari bahkan sampai seminggu Mas Adnan benar-benar tidak memberi kabar. Baik sms maupun mengirim pesan. Perasaan Aliya semakin menjadi-jadi. Kenapa Mas Adnan menjadi sangat tertutup setelah kegiatan jalan santai. Sampai suatu hari dia menanyakan Mas Adnan pada salah satu temannya, Mas Adjie. Kebetulan Mas Adjie adalah tetangga dusun Aliya. Aliya dekat dengan Mas Adjie, dia sering main ke rumah Mas Adjie dan berbincang-bincang dengannya.
“Mas Adjie, aku mau tanya. Kamu teman sekelasnya Mas Adnan kan?”
“Iya, kenapa tho Dek?”
“Ini lho, kamu tahu kan kejadian pas jalan santai? Nah, setelah kejadian itu, Mas Adnan bener-bener aneh. Aku lostcontact sama Mas Adnan. Kamu tahu ndak ya mas, kira-kira dia itu kenapa.”
“Coba ya, Dek nanti aku cari tahu. Aku juga bingung kok, Dek! Setelah acara jalan santai itu. Padahal kalian kan deket.”
“Ehm, dia berubah ya?”
“Ehm, sedikit sih, Dek! Sekarang kalau dia tak ajak lewat depan kelasmu ndak mau, terus agak pendiam, kalo diajak ke kantin sering nolak, Dek! Dan dia kayak gitu ya setelah acara jalan santai itu.”
“Minta tolong ya, Mas! Aku jadi bingung kenapa dia kayak gitu. Biar kalo aku punya salah, aku minta maaf.”
“Iya, Dek! Sabar ya, tenangin pikiranmu dulu!”
Mas Adjie pun berusaha membantu Aliya dalam hal ini. Segala upaya Mas Adjie lakukan. Namun sayang, perubahan Mas Adnan tetap menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.
“Dek Aliya!”
“Eh, iya Mas Adjie. Ada apa?”
“Gini dek, aku sudah nyoba cari tahu tentang Mas Adnan. Tapi, hasilnya nihil. Temen-temen juga nyoba cari tahu, dan hasilnya sama.”
“Duh, aku bingung. Kalo gini kan ndak jelas permasalahannya itu apa. Kalau jelas, misal aku emang punya salah kan aku bisa minta maaf.”
“Gini aja deh, Dek kamu coba sms lagi ke Mas Adnan tanya kenapa dia jadi aneh sama kamu, bilang aja kalau kamu punya salah, kamu minta maaf.”
Dua,tiga, empat hari bahkan sampai seminggu Mas Adnan benar-benar tidak memberi kabar. Baik sms maupun mengirim pesan. Perasaan Aliya semakin menjadi-jadi. Kenapa Mas Adnan menjadi sangat tertutup setelah kegiatan jalan santai. Sampai suatu hari dia menanyakan Mas Adnan pada salah satu temannya, Mas Adjie. Kebetulan Mas Adjie adalah tetangga dusun Aliya. Aliya dekat dengan Mas Adjie, dia sering main ke rumah Mas Adjie dan berbincang-bincang dengannya.
“Mas Adjie, aku mau tanya. Kamu teman sekelasnya Mas Adnan kan?”
“Iya, kenapa tho Dek?”
“Ini lho, kamu tahu kan kejadian pas jalan santai? Nah, setelah kejadian itu, Mas Adnan bener-bener aneh. Aku lostcontact sama Mas Adnan. Kamu tahu ndak ya mas, kira-kira dia itu kenapa.”
“Coba ya, Dek nanti aku cari tahu. Aku juga bingung kok, Dek! Setelah acara jalan santai itu. Padahal kalian kan deket.”
“Ehm, dia berubah ya?”
“Ehm, sedikit sih, Dek! Sekarang kalau dia tak ajak lewat depan kelasmu ndak mau, terus agak pendiam, kalo diajak ke kantin sering nolak, Dek! Dan dia kayak gitu ya setelah acara jalan santai itu.”
“Minta tolong ya, Mas! Aku jadi bingung kenapa dia kayak gitu. Biar kalo aku punya salah, aku minta maaf.”
“Iya, Dek! Sabar ya, tenangin pikiranmu dulu!”
Mas Adjie pun berusaha membantu Aliya dalam hal ini. Segala upaya Mas Adjie lakukan. Namun sayang, perubahan Mas Adnan tetap menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.
“Dek Aliya!”
“Eh, iya Mas Adjie. Ada apa?”
“Gini dek, aku sudah nyoba cari tahu tentang Mas Adnan. Tapi, hasilnya nihil. Temen-temen juga nyoba cari tahu, dan hasilnya sama.”
“Duh, aku bingung. Kalo gini kan ndak jelas permasalahannya itu apa. Kalau jelas, misal aku emang punya salah kan aku bisa minta maaf.”
“Gini aja deh, Dek kamu coba sms lagi ke Mas Adnan tanya kenapa dia jadi aneh sama kamu, bilang aja kalau kamu punya salah, kamu minta maaf.”
sambungan
Tanggal 21 Oktober 2010, Midsemester 1 dilaksanakan. Aliya berada di ruang 14 dan Mas Adnan ada di ruang 3. Mereka memang tidak seruangan. Tetapi, di balik tirai ruang 14 terlihat jelas motor dan sosok Mas Adnan di tempat parkir. Aliya tahu benar perawakan dan wajah Mas Adnan. Senyum kecil muncul di mulut Aliya saat hari kedua Midsemester 1. Meskipun Mas Adnan tidak melihatnya secara langsung. Aliya selalu mellihat jelas wajah Mas Adnan dari balik jendela ruang Tes 14. Hari terakhir Midsemester 1, membuat hati Aliya sedikit sedih. Dalam benak Aliya berkata, “Yah, selesai deh Midsemester hari ini. Ndak bisa liat wajahnya lagi.”
Sehari setelah selesai Midsemester 1, diadakan acara jalan santai. Acara ini diadakan untuk me-refresh pikiran murid-murid SMA Global Jaya. Di acara jalan santai tersebut, Aliya, sahabatnya Kiki dan grup bandnya akan tampil.
“Wah, senang ya Al?”
“Senang kenapa, Ki?”
“Kita kan mau tampil, kamu bakalan dilihat Mas Adnan kan?”
“Ah, mana mungkin. Ya, semoga saja. Tapi, perasaanku ndak enak.”
“Kenapa perasaanmu ndak enak?”
“Ah, ndak apa-apa.”
Jalan santai diadakan jam 8.00 WIB. Aliya dan Kiki tidak ikut jalan santai melainkan persiapan untuk tampil.
Setelah selesai jalan santai, doorprize mulai dibagikan sambil diselingi dengan hiburan-hiburan. Band-band kakak kelas tampil awal, tepat pukul 8.45 WIB grup band Aliya tampil. Saat Aliya menyanyi, tiba-tiba teman-teman Mas Adnan maju ke depan panggung. Mereka mengejek Aliya. Konsentrasi Aliya sempat terganggu, karena suara teman-teman Mas Adnan begitu kerasnya. Selesai manggung, Aliya benar-benar tak habis pikir. Kejadian saat dia menyanyi di atas panggung tak terduga. Dia bingung, kenapa teman-teman Mas Adnan mengejeknya.
Acara jalan santai usai. Semua siswa SMA Global Jaya kembali ke rumah masing-masing. Aliya dan Kiki sibuk membereskan peralatan manggungnya. Kiki pulang dijemput Ayahnya, sedangkan Aliya pulang naik angkot. Waktu itu menunjukkan pukul 15.00 WIB.
Di rumah, Aliya sedang menunggu sms dari Mas Adnan. Sampai pukul 21.00 WIB tidak ada sms masuk dari Mas Adnan. Aliya membuka account facebooknya, tetapi tidak ada pemberitahuan satupun dari Mas Adnan.
Keesokan harinya, tidak ada sms dari Mas Adnan. Aliya bercerita pada Kiki.
“Ki, kok aneh ya?”
“Aneh kenapa, Al?”
“Ya aneh, dari tadi malam aku nungguin sms dari Mas Adnan. Tapi, ndak ada satupun sms dari dia.”
“Cie, Aliya kangen sama Mas Adnan ya?”
“Ehm, ndak juga sih. Perasaanku ndak enak nih!”
“Eee, mungkin dia lagi capek aja kali. Lagian, dia ndak sms kamu kan baru sehari ini.”
“Ya, semoga aja gitu.”
Tanggal 21 Oktober 2010, Midsemester 1 dilaksanakan. Aliya berada di ruang 14 dan Mas Adnan ada di ruang 3. Mereka memang tidak seruangan. Tetapi, di balik tirai ruang 14 terlihat jelas motor dan sosok Mas Adnan di tempat parkir. Aliya tahu benar perawakan dan wajah Mas Adnan. Senyum kecil muncul di mulut Aliya saat hari kedua Midsemester 1. Meskipun Mas Adnan tidak melihatnya secara langsung. Aliya selalu mellihat jelas wajah Mas Adnan dari balik jendela ruang Tes 14. Hari terakhir Midsemester 1, membuat hati Aliya sedikit sedih. Dalam benak Aliya berkata, “Yah, selesai deh Midsemester hari ini. Ndak bisa liat wajahnya lagi.”
Sehari setelah selesai Midsemester 1, diadakan acara jalan santai. Acara ini diadakan untuk me-refresh pikiran murid-murid SMA Global Jaya. Di acara jalan santai tersebut, Aliya, sahabatnya Kiki dan grup bandnya akan tampil.
“Wah, senang ya Al?”
“Senang kenapa, Ki?”
“Kita kan mau tampil, kamu bakalan dilihat Mas Adnan kan?”
“Ah, mana mungkin. Ya, semoga saja. Tapi, perasaanku ndak enak.”
“Kenapa perasaanmu ndak enak?”
“Ah, ndak apa-apa.”
Jalan santai diadakan jam 8.00 WIB. Aliya dan Kiki tidak ikut jalan santai melainkan persiapan untuk tampil.
Setelah selesai jalan santai, doorprize mulai dibagikan sambil diselingi dengan hiburan-hiburan. Band-band kakak kelas tampil awal, tepat pukul 8.45 WIB grup band Aliya tampil. Saat Aliya menyanyi, tiba-tiba teman-teman Mas Adnan maju ke depan panggung. Mereka mengejek Aliya. Konsentrasi Aliya sempat terganggu, karena suara teman-teman Mas Adnan begitu kerasnya. Selesai manggung, Aliya benar-benar tak habis pikir. Kejadian saat dia menyanyi di atas panggung tak terduga. Dia bingung, kenapa teman-teman Mas Adnan mengejeknya.
Acara jalan santai usai. Semua siswa SMA Global Jaya kembali ke rumah masing-masing. Aliya dan Kiki sibuk membereskan peralatan manggungnya. Kiki pulang dijemput Ayahnya, sedangkan Aliya pulang naik angkot. Waktu itu menunjukkan pukul 15.00 WIB.
Di rumah, Aliya sedang menunggu sms dari Mas Adnan. Sampai pukul 21.00 WIB tidak ada sms masuk dari Mas Adnan. Aliya membuka account facebooknya, tetapi tidak ada pemberitahuan satupun dari Mas Adnan.
Keesokan harinya, tidak ada sms dari Mas Adnan. Aliya bercerita pada Kiki.
“Ki, kok aneh ya?”
“Aneh kenapa, Al?”
“Ya aneh, dari tadi malam aku nungguin sms dari Mas Adnan. Tapi, ndak ada satupun sms dari dia.”
“Cie, Aliya kangen sama Mas Adnan ya?”
“Ehm, ndak juga sih. Perasaanku ndak enak nih!”
“Eee, mungkin dia lagi capek aja kali. Lagian, dia ndak sms kamu kan baru sehari ini.”
“Ya, semoga aja gitu.”
Langganan:
Postingan (Atom)
