sambungan
Awal bulan Juni, Mas Bastian mengikuti wasana warsa kelas XII. Aliya sendiri selesai Tes Semester 2 dan sedang menunggu pembagian raport kelas X. Ternyata, mereka sama-sama mendapatkan peringkat. Aliya mendapatkan peringkat satu di kelasnya dan Mas Bastian peringkat dua untuk nilai Ujian Nasionalnya. Mas Bastian telepon bahwa sore hari akan diadakan pertandingan basket di sekolahnya dan dia mengajak Aliya. Aliya ingin, tapi Mas Bastian harus ijin terlebih dahulu kepada orang tua Aliya agar Aliya diijinkan keluar bersamanya. Mas Bastian tidak masalah dengan itu.
Pertandingan basket belum dimulai, Mas Bastian mencari tempat duduk untuk Aliya. Karena, Mas Bastian juga ikut bertanding sore itu.
Selesai pertandingan basket yang dimenangkan oleh SMA Global Jaya keadaan justru berubah menjadi hening. Aneh, seharusnya sorak-sorai gembira terpancar dari para pemain basket. Tiba-tiba MC memanggil Aliya untuk turun ke lapangan. Aliya dengan kebingungannya turun ke lapangan. Suasana pun menjadi sangat hening. Dari ujung pintu sayap kanan, pemain inti SMA Global Jaya keluar dengan membawa bunga mawar putih. Cheerleader pun ikut membawa mawar-mawar putih yang begitu indahnya. Di tengah para pemain basket, Mas Bastian muncul dengan mawar merahnya. Dia lalu berdiri di depan Aliya sambil mengatakan.
“Dek, aku tahu kamu nggak boleh pacaran sama orang tua & kamu sendiri nggak mau pacaran karena kamu pengen fokus sekolah. Aku salut, Dek! Tapi, ada satu hal yang aku pengen kamu ngerti. Aku suka sama kamu, Dek! Kamu beda dari yang lainnya!”
“E..e..e..e.. I’m speechless.”
“Karena aku tahu kamu nggak bakal pacaran untuk sekarang ini. Jadi, kamu nggak perlu jawab, karena aku juga udah tahu jawabannya. Yang penting kamu tahu, kalau aku suka sama kamu, Dek!”
Aliya hanya tersenyum manis. Mas Bastian menggandeng tangan Aliya dan yang lainnya hanya bisa tepuk tangan. Saat membalikkan badan, Mas Adnan berdiri tegak di dekat pagar lapangan. Mata Aliya berkaca-kaca. Mas Adnan seperti memberi kode pada Aliya untuk bertemu dengannya di tempat parkir.
“Dek Aliya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Aku minta maaf, Dek! Aku terlalu gengsi buat deket sama kamu, Dek! Aku akuin aku memang salah. Aku benar-benar bodoh, Dek! Maaf ya, Dek! Aku tahu kamu berusaha nyari aku lewat Adjie dan kamu juga minta maaf sama aku.”
“Oke, tak maafin. Tapi, semuanya udah terlambat, Mas!”
Segera motor Mas Bastian menunggu Aliya. Aliya naik ke motor Mas Aliya, mereka pulang bersama. Namun, di dalam hati Aliya, andai waktu bisa terulang kembali.
You are irreplaceable…
Lereng Merbabu,
Bulan lima 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar